Sabtu, 07 November 2015
PENDIDIKAN KARAKTER
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM KEBUDAYAAN WAYANG
20 Mar
BAB I
PENDAHULUAN
WAYANG adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In¬donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem¬perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Wayang?
2. Apakah Nilai – nilai Pendidikan Islam yang terkandung dlam kebudayaan wayang?
BAB II
ANALISIS
Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi yang diakibatkan oleh krisis moral. Krisis multidimensi ini terjadi berkepanjangan karena moralitas bangsa Indonesia sebagian besar telah rusak, hal ini terlihat dari aktivitas pelanggaran hukum yang semakin merajalela. Krisis moral diduga berawal dari semakin jauhnya bangsa Indonesia terhadap kebudayaan yang ada dan semakin maraknya budaya-budaya asing yang kurang sesuai dengan budaya asli bangsa Indonesia. Masuknya budaya-budaya asing yang kurang sesuai ini terjadi dari lemahnya karakter bangsa Indonesia yang mengakibatkan daya saring terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia. Bahkan saat ini para penerus generasi bangsa merasa lebih senang bila menerapkan budaya-budaya asingdaripada budaya kita sendiri. Hal ini terlihat dari gaya berpakaian maupun gayadalam bertingkah laku.
Pertunjukkan wayang di Indonesia kurang disukai karena cara pengemasan pertunjukan wayang yang kurang menarik. Pertunjukkan wayang ditayangkan malam hari sampai menjelang subuh. Hal ini menyebabkan pertunjukan wayang lebih diminati oleh sebagian kecil masyarakat. Padahal banyak nilai-nilai luhur yang dapat dipelajari dari pertunjukan wayang. Bagi kebanyakan anak muda, image pertunjukan wayang bukanlah suatu trend yang patut diikuti. Hal ini menyebabkan anak-anak muda cenderung tidak memiliki ketertarikan pada seni pertunjukan wayang. Durasi pertunjukan wayang yang terlalu lama menyebabkan rasa bosan bagi penontonnya. Selain itu pertunjukkan wayang sering menggunakan bahasa daerah yang kental, sehingga hanya orang-orang tertentuyang dapat memahami isi cerita dari pertunjukan wayang.
Berdasarkan berbagai keterbatasan tersebut, maka langkah-langkah yang dapat diambil adalah dengan mengubah pengemasan pertunjukan wayang kulit tanpa merubah isi dan juga nilai-nilai ajaran di dalamnya. Kemasan yang dapat diubah adalah jam tayang pertunjukan, durasi pertunjukan, dan bahasa penyajiannya. Jam tayang pertunjukan dapat diganti menjadi lebih awal sehingga akan lebih banyak orang yang dapat menyaksikan pertunjukan wayang. Durasi pertunjukan juga dapat dikurangi tanpa mengurangi isi cerita dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya sehingga penonton tidak akan cepat bosan selama pertunjukan berlangsung. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia sehingga bukan hanya orang Jawa yang dapat
mengerti jalan ceritanya. Selain itu, perpaduan seni dalam pertunjukan wayang kulit juga dapat dilakukan tanpa mengubah ajaran moral yang dapat diambil didalamnya. Masyarakat akan senang menyaksikan, sehingga masyarakat dapat menerima pendidikan moral dengan senang.
Dengan demikian pertunjukan wayang kulit dapat menjadi sarana untuk memberikan pendidikan moral yang menyenangkan, karena suasananya menghibur penonton. Selain memperoleh hiburan dengan seni yang dimainkan oleh dalang dengan wayang kulit serta lagu-lagu iringan oleh para sinden atau penyanyi lagu-lagu yang mengiringi kisah cerita dalam pewayangan, penonton juga mendapatkan pendidikan moral.
A.Sejarah Wayang
Ada dua pendapat mengenai asal – usul wayang. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe¬wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo¬nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur¬nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In¬dia, Walmiki.
Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In¬dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa¬yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per¬tunjukan wayang.
B. Kelahiran Wayang Kulit
Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis¬toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone¬sia halaman 987.
Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa¬yangan’, yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga masih belum ada.
Sejak saat itulah cerita – ¬cerita Panji, yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.
Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.
Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.
C. Nilai-nilai Pendidikan yang terkandung Dalam Budaya Wayang
Lewat pertunjukkan wayang melalui tokoh serta ceritanya mempunyai peran dalam pembinaan dan pendidikan untuk membangun karakter bangsa.Karena wayang menjadi salah satu kekayaan tradisi bangsa Indonesia,sudah seharusnya dilestarikan dan dimanfaatkan dalam pembentukan budaya bangsa yang akan jadi potret orang Indonesia sampai kapanpun.
Nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam pewayangan selalu mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan menhindari kejahatan,serta menanamkan kepada masyarakat semangat “amar ma’ruf nahi mungkar” atau istilah dalam pewayangan “memayu hayuning bebrayan agung”,sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing.
Dalam kisah pewayangan ini yang patut diteladani adalah peran tokoh Sri Rama dan Arjuna yang memilki sifat selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan,dalam penampilanya rapi,penuh dengan senyum,tutur bahasanya halus,tingkah lakunya terukur dan tampak tidak berminat membuat orang susah terhadap siapapun.
Peran kepemimpinan tokoh Abiasa yang juga patut diteladani,karena paada waktu ia menjadi penguasa di negeri Astina selalu mencintai dan memberi perhatian kepada rakyatnya,memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten,memiliki visioner dan integritas yang tinggi,sehingga ia dicintai dan dipercaya oleh pengikutnya.
Dalam menjalankan kepemimpinan hendaknya berlandaskan pada kepemimpinan “Hasta Brata” yang terdapat 8 (delapan) laku nilai-nilai watak kepemimpinan yang meniru sifat-sifat keutamaan alam semesta,yaitu:
1. Bumi yaitu seorang pemimpin harus setia memberi kebutuhan-kebutuhan hidup kepada siapa saja,sabar(bumi sebagai sumber kehidupan).
2. Air yaitu pemimpin harus selalu turun ke bawah(rakyat) untuk melihat dan memberi kesejukan serta tidak menempatkan diri lebih tinggi dan lebih rendah daripada siapapun,karena air bertabiat rata.
3. Angin yaitu pemimpin harus sanggup menghembus siapa saja tanpa pandang bulu dan tanpa pilih kasih.
4. Bulan yaitu pemimpin harus dapat menerangi siapapun yang sedang kegelapan sehingga dapat memberikan kesejahteraan,keindahan dan harapan.
5. Matahari yaitu pemimpin harus memberi petunjuk sebagai sumber kekuatan yang menghidupkan.
6. Samudra yaitu pemimpin harus memberi kasih sayang dan kebebasan tak terbatas,karena samudra luas dan tak bertepi.
7. Gunung yaitu pemimpin harus kukuh dan kuat untuk melindungi rakyatnya.
8. Api yaitu pemimpin harus mampu membakar dan memberi kehangatan(mampu memberantas kejahatan dan memberi kenikmatan).
Dengan harapan muatan tulisan diatas,dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya kearifan nilai-nilai budaya lokal dalam membangun sosok watak bangsa yang memiliki budaya unggul,baik keunggulan bidang spiritulitas,intelektualitas,disiplin dan ethos kerja,yang selanjutnya diharapkan dapat mendorong terwujudnya cita-cita reformasi untuk memenuhi harapan kita
Dalam dunia pewayangan kita juga mengenal beberapa hal diantaranya kata brahmana, ksatria, wisya, sudra. Dengan mengenal tingkat status sosial maka masing-masing tokoh bisa mengenal dirinya sebagai apa dan harus bagaimana dalam bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari dalam dunia pewayangan.
Misal Seorang Brahmana dalam membawakan diri harus :
a. Sumeh : ramah tamah terhadap siapapun dan selalu bermuka jernih. Murah senyum.
b. Sareh : tidak mudah emosi, semua diatasi dengan kebijaksanaan.
c. Waleh : selalu berterus terang dan tidak ada yang dirahasiakan.
d. Sumeleh : percaya kepada keadilan Tuhan. Berpegang pada siapa yang menanam dia yang akan menuai.
e. Aja remeh : tahu untuk tidak bertindak nistha, seperti menipu, maling, membunuh, main perempuan dan lain-lain.
Kastra Sudra dalam dunia pewayangan menggambarkan kawula alit yang penuh dengan kekurangan baik secara fisik maupun mental spiritual, sehingga mereka digambarkan dalam bentuk yang tidak sempurna. Misal seperti tokoh dibawah ini.
Nala Gareng, secara fisik dia diberi kekurangan: mata kero, sikil pencik, tangan ceko, irung menthol. Petruk (wudel bodhong, irung bangir, awak bungkuk), Bagong (pawakan cebol, lambe doble, irung pesek), Semar (secara fisik sama dengan Bagong), Bilung (orang kerdil, banyak borok, kudisan), Togog juga demikian adanya, semuanya ini menggambarkan kawula alit yang penuh dengan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan. Tokoh-tokoh inilah yang dapat melengkapi dunia pertunjukan wayang kulit sehingga semakin komplit dan dapat diterima disemua kalangan masyarakat. Dengan tokoh2 sudra inilah para dalang mampu memberikan kritik-kritik yang pedas terhadap tatanan masyarakat dan pemerintahan yang tidak sesuai dengan norma.
D. Pendapat Para Ahli Kebudayaan Tentang Nilai Pendidikan Dalam Kebudayaan Wayang
Menurut Amir (1997), nilai-nilai yang terdapat dalam wayang, oleh sejarahnya yang teramat panjang, merangkum nilai-nilai yang berasal dari system etika purba, Hinduisme/Budhisme, Islam, aliran-aliran kepercayaan/kebathinan dan lain-lain. Ajaran wayang purwa banyak mempengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat penggemarnya (Jawa).
Seorang pemerhati wayang di Yogyakarta, Tjipto Haribowo memandang kesenian wayang kulit dapat dipakai sebagai sebuah media pembelajaran hidup mulai dari sensitivitas, sensibilitas, etika, demokratisasi, atau bahkan pembelajaran bagaimana hidup dalam suasana pluralisme (Rahman, 2008).
Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa maupun sebagai dasar negara/ideologi negara adalah sebuah kesadaran; artinya kita meyakini nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penuh kesadaran. Ini juga berarti adanya kesadaran bahwa eksistensi kita sebagai bangsa dan negara yang sangat beragam ini adalah sebuah potensi, jika dikelola dengan baik dengan meng-implementasikan nilai-nilai Pancasila di berbagai bidang: kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, hukum, sejarah, ekonomi, industri dan sebagainya maka niscaya akan membuat kita menjadi sebuah bangsa dan negara yang besar (Arifin, 2008).
BAB III
KESIMPULAN
Secara lahiriah, kesenian wayang merupakan hiburan yang mengasyikkan baik ditinjau dari segi wujud maupun seni pakelirnya. Namun demikian dibalik seni pakeliran yang tersurat ini terkandung nilai adiluhur sebagai santapan rohani secara tersirat. Peranan seni dalam pewayangan merupakan unsur dominan. Akan tetapi apabila dikaji secara mendalam dapat ditelusuri nilai-nilai edukatif yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Unsur-unsur pendidikan tampil dalam bentuk pasemon atau perlambang. Oleh karena itu, kemampuan seseorang dalam melihat nilai-nilai tersebut tergantung juga dari cara menghayati dan mencerna bentuk-bentuk simbol atau lambang dalam pewayangan. Dalam lakon-lakon tertentu misalnya lakon yang diambil dari Serat Ramayana maupun Mahabarata sebenarnya dapat diambil pelajaran yang mengandung pendidikan. Peranan kesenian wayang sebagai sarana penunjang pendidikan kepribadian bangsa, rasanya perlu mendapat tinjauan secara khusus. Berdasarkan sejarahnya, kesenian wayang jelas lahir di bumi Indonesia.
Berbicara mengenai kesenian wayang dalam hubungannya dengan pendidikan kepribadian bangsa tidak dapat lepas dari tinjauan kesenian wayang itu sendiri dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan cirri khusus yang dapat membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Pancasila adalah norma yang mengatur tingkah laku dan perikehidupan bangsa.
Wayang merupakan suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni seni rupa dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending atau irama gamelan, diwarnai dialog (antarwacana), menyajikan lakon dan pitutur atau petunjuk hidup manusia dalam falsafah. Sehingga pertunjukan wayang kulit di daerah jawa dapat menjadi sarana hiburan sekaligus sebagai sarana pendidikan
yang dapat memperbaiki moralitas penduduk jawa dan bangsa Indonesia secara umum. Perbaikan moral merupakan faktor yang sangat penting untuk mengentaskan bangsa Indonesia dari krisis multidimensi yang berkepanjangan. Sehingga pertunjukan wayang kulit dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia.
Dengan membudayanya pertunjukan wayang kulit di Indonesia khususnya Tanah Jawa akan berdampak pada:
1. Melestarikan budaya Jawa sebagai budaya daerah yang menopang kuatnya budaya nasional.
2. Dapat menyaring budaya-budaya asing yang masuk, yang mana budaya asing yang baik artinya yang sesuai dengan budaya kita, kita terima dan yang tidak sesuai tidak kita terima.
3. Melindungi generasi Indonesia agar tidak terkontaminasi dengan budaya asing yang kurang baik.
4. Memperbaiki perilaku bangsa Indonesia karena pertunjukan wayang selalu berisi tentang ajaran-ajaran kehidupan yang benar sesuai dengan nurani.
5. Rasa cinta dan bangga terhadap tanah air dan bangsa akan semakin meningkat dibenak generasi Indonesia pada khususnya dan masyarakat indonesia pada umumnya, sehingga akan berdampak pada lancarnya pembangunan Indonesia menjadi negara yang lebih baik
TRADISI SIRAMAN
- Siraman dipunlaksanaken déning para sesepuh (priyantun ingkang dipunsepuhaken) ingkang cacahipun pitu, kalebet rama kaliyan ibu saking ibu ingkang nembé ngandhut. Saénipun ingkang nyirami inggih punika tiyang sepuh ingkang sampun gadhah wayah.
- Sasampunipun upacara siraman, dipunlajengaken upacara nglebetaken tigan ayam kampung wonten ing kain (sarung) calon sang ibu déning sang garwa saking padharanipun ngantos pecah. Punika minangka simbol saha nyuwun supados bayi ingkang badhé dipunlairaken saged lair kanthi gampil tanpa alangan satunggal punapa. Padatanipun, bilih priyantun èstri ingkang nembé ngandhut sapisanan nglairaken kathah godhanipun. Awit saking punika, prelu ndedonga kaslametan, utaminipun ing wekdal pitung sasi.
- Salajengipun inggih punika gantos busana kaping pitu dipunrangkepi kain pethak. Kain pethak kala wau dados dhasaring busana ingkang kaping pisan minangka pralambang bilih bayi ingkang badhe dipunlairaken inggih suci saha badhe pikantuk rahamat saking Gusti Allah SWT.
- Sasampunipun ingkang calon ibu ngagem kain pethak kaping pitu gantos-gantosan, lajeng dipunadani adicara medhot lawè ingkang dipunubengaken ing padharanipun calon ibu. Dènè ingkang medhot benang lawè punika inggih calon bapa nipun kanthi ancas supados bayi ing kandhutan samangkè saged lair kanthi gampil.
- Menawi lawè sampun dipunpedhot, mila calon simbah putri saking pihak calon ibu, nggèndhong klapa gadhing dipunkancani dèning ibu bèsan. Ananging sadéréngipun, klapa gadhing kala wau dipunlebataken wonten ing kain ingkang dipunagem calon ibu saking nginggil liwat padharan dumugi ngandhap, lajeng dipuntampani dèning calon simbah putri nipun. Ancas saking upacara punika inggih supados samangkè bayi ingkang dipunkandhut saged lair kanthi gampil tanpa rubèda satunggal punapa.
- Rerangkéning adicara ingkang salajengipun inggih calon bapa mecah klapa gadhing kasebat kanthi sadéréngipun milih setunggal saking kalih klapa ingkang sampun dipugambari Kamajaya saha Dewi Ratih utawi Arjuna kaliyan Wara Sumbadra utawi Srikandhi. Klapa kalih kala wau dipunwalik supados ingkang bapa boten saged ningali gambaripun kala wau. Menawi klapa ingkang dipungepuk kaliyan ingkang bapa ingkang gambaripun Kamajaya mila bayi nipun badhe lair kakung, saha kosok walikipun bilih ingkang dipungepuk gambar Dewi Ratih, mila bayinipun éstri. (Punika namung ingkang dipunkaremaken kemawon, déréng mesti dados kasunyatan). Ananging, bilih kita nyuwun kanthi saéstu dhumateng Gusti Ingkang Maha Kuwaos, mila punapa ingkang dipungayuhaken saged kabul.
- Sabibaripun upacara siraman punika kalajengaken upacara milih sekul jènè ingkang mapan wonten ing takiripun ingkang garwa. Lajeng dipunlajengaken upacara dodol dhawet saha rujak. Anggénipun bayar dodolan nganggè logam ingkang kadamel saking remukan gendhéng (kréwéng) ingkang dipunbentuk bunder, arupi yatra logam punika. Asilipun dodolan dipunkempalaken lajeng dipunlebetaken kwali ingkang dipundamel saking lempung. Kwali ingkang sampun dipunisi kaliyan kréwéng kala wau lajeng dipungepuk wonten ing ngajeng lawang. Upacara punika minangka simbol supados bayi ingkang dipunlairaken samangkè pikantuk kathah rejeki, saged kangge nyekapi gesangipun kulawarganipun saéngga saged ngamal ingkang kathah.
Ubarampè ingkang dipunginakaken ing upacara tingkeban inggih
awujud manèka werna dhedharan. Dènè ancasipun wonten dhedharan punika minangka
tandha sukur dhumateng Gusti Ingkang Maha Kuawaos awit sedaya sih nugrahanipun.
- Tumpeng Kuat. Tumpeng kuat minangka simbol supados bayi ingkang badhè dipunlairaken samangkè sehat saha kuwat. Bahan ingkang dipunginakaken inggih punika wos. Tumpeng ugi dipunhias ngginakaken tigan ayam godhog 35 iji, tahu, tèmpè, iwak asin goreng, lombok mentah ingkang dipundamel hiasan saha tèrong mentah ingkang dipunoncéki ananging kulitipun tetep taksih nèmplèk, saha dipunsukani urab-uraban.
- Jajan Pasar. Jajan pasar punika boten kedah dipundamel piyambak ananging tumbas kèmawon wonten ing pasar. Jajan pasar ingkang dipuntumbas antawisipun kuè apem, kuè cucur, kuè bolu, kuè lapis, saha woh-wohan kados ta, nangka, jeruk, bengkowang, timun, pisang, kacang godhog, lan sapanunggalanipun. Sedaya jajan pasar kala wau dipuntata kanthi rapi nembè dipunsajikaken.
- Keleman. Keleman inggih punika kados ubi-ubi nan. Keleman ingkang dipunbetahaken dados ubarampè upacara tingkeban arupi pitung jinis, kados ta: ubi jalar, tèla, gembili, kenthang, wortel, ganyong, saha erut. Manèka warna keleman dipunsajikaken wonten ing setunggal wadah kados ta nyiru.
- Rujakan. Rujakan punika kadamel saking manèka warna woh-wohan kados ta: jeruk, timun, blimbing, pisang watu, lan sapanunggalanipun. Sedaya bahan rujak dipuncampur dados setunggal saha dipunsajikaken kanthi saè ngantos raosipun rujak èco. Ancasipun inggih supados bayi ingkang badhè dipunlairaken samangkè saged ngremenaken kulawarganipun.
- Dawet. Kangge nggampilaken anggenipun damel, dawetipun saged dipuntumbas wonten ing pasar saha ing griya namung kantun mangsak dawetipun kanthi dipuncampur santen supados raosipun èco. Menawi kepéngin seger saged dipuntambahi ugi és batu.
- Sajén Medikingan. Sajén punika dipundamel kanggè lairanipun putra ing sangandhaping putra bajeng piyambak. Dènè ubarampènipun inggih kados mekaten.
·
sekul jenè ingkang bentukipun
kerucut.
·
sekul loyang, inggih punika sekul
jenè ingkang dipunkum wonten ing toya, lajeng dipundang malih saha dipunsukani
klapa parut.
·
entén-entén, inggih punika campuran
klapa parut kaliyan gendhis klapa ingkang dipunmangsak ngantos garing.
·
bubur procot, dipundamel saking
glepung wos, santen sacekapipun, gendhis klapa, ingkang dipunmangsak kanthi
wetah, lajeng dipunlebetaken periuk ingkang salajengipun dipunmangsak
sesarengan.
Wonten ing upacara tingkeban kedah wonten ugi pitung jinis bubur, kalebet bubur procot punika.
Upacara tingkeban limrahipun dipunadani ing dinten ingkang
pinilih, inggih dinten rebo utawi setu ing tanggal 14 saha 15 miterat tanggal
sasi Jawa. Priyantun Jawi pitados bilih menawi upacara tingkeban dipunadani ing
tanggal punika, bayi ingkang badhè dipunlairaken gadhah cahya ingkang sumunar
saéngga saged dados larè ingkang pinter. Wekdal kangge ngadani upacara
tingkeban ingkang sae ing wanci 09.00 - 11.00. Calon ibu kedah siram saha
kramas ingkang resik rumiyin. Punika minangka simbol wontenipun kekareman
ingkang suci saha resik saking pribadinipun calon ibu. Upacara tingkeban saged
dipunwiwiti ing pukul 15.00 - 16.00, amargi priyantun Jawa pitados bilih ing
wekdal punika bidadari saweg mandhap ing bumi kagem siram.
Sapèranganing pirantos ingkang kedah dipunsamektakaken
kanggè upacara tingkeban ing antawisipun 1 mèja ingkang dipuntutup kain pethak
ingkang resik. Sanginggilipun dipuntutup malih kaliyan bangun tulak, kain sindur, kain lurik, yuyu sekandhang, mayang
sekar utawi lentrek, ron dhadhap serep, ron kluwih, saha ron alang-alang. Sedaya bahan
kala wau kanggè lambaran menawi saweg nyirami.[3]
Pirantos sanésipun ingkang dipunbetahaken inggih punika:
- Bokor. Bokor dipunisi toya sekar setaman kanggè upacara siraman.
- Bathok. Dipunginakaken kanggè cidhuk ing upacara siraman.
- Boreh, dipunginakaken kanggè gantosipun sabun ing upacara siraman.
- Kendhi, dipunginakaken kanggè nyirami ingkang kaping pungkasan.
- Lap andhuk.
- Kalih setengah méter kain pethak.
- Tigan ayam kampung setunggal dipunwungkus plastik, cengkir klapa gadhing.
Busana ingkang dipunagem calon ibu inggih punika, kalih
méter lawè, rasukan dalam, kebaya 7 potong, kain batik 7 lembar salah
satunggalipun motif truntum, saha stagéén. Dènè busana ingkang dipunagem calon
bapa inggih punika kain batik motif truntum, beskap, saha udeng (blangkon).
Kanggè calon ibu boten pareng nganggè perhiasan.
- Tumpeng robyong mawi kuluban, tigan ayam godhog, iwak asin dipungoréng.
- Ayam bekakah 1 pasang (ayam ingkung)
- Bubur pethak 1 piring
- Bubur sengkala 1 piring
- Bubur abrit 1 piring
- Pényon utawi plérét 1 piring
- Ketupat lepet (namung kanggè sarat kemawon)
- Manèka warna woh-wohan
- Jajan pasar saha pala kependhem
- Arang-arang kembang 1 gelas
- Dhawet ayu
SEJARAH AKSARA JAWA
SEJARAH AKSARA JAWA
Posted by ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa) On 0 komentar
Sejarahe Aksara Jawa
Ing rubrik LSW JB No. 28 Minggu II sasi Maret 2006, Bapak Yusuf Asmara mundhut priksa bab sejarahe akasara Jawa. Yen ora kleru sing dikersakake Bapak Yusuf Asmara iku aksara Jawa anyar kanthi aksara legena cacah 20 wiwit HA nganti NGA. Yen bener mangkono, keparenga penulis ngaturake tulisan bab sejarahe aksara Jawa kasebut, ringkesan saka sawatara buku-buku kapustakan. Ing buku HA NA CA RA KA (Bp. Slamet Riyadi) babarane Yayasan Pustaka Nusantara Yogyakarta diandharake manawa ngrembug sejarahe aksara Jawa anyar kang uga diarani sastra sarimbagan utawa carakan iku ora bisa dipisahake karo rembug bab kelairan lan pandhapuke aksara kasebut. Miturut Bp Slamet Riyadi ing bukune kang isi kelairan, penyusunan, fungsi, lan maknane Ha-Na-Ca-Ra-Ka kasebut ana konsepsi cacah loro kanggo nlusur kelairane aksara Jawa lan penyusunan abjad ha-na-ca-ra-ka, yaiku konsepsi secara tradisional lan konsepsi secara ilmiah. KONSEPSI SECARA TRADISIONAL Adhedhasar konsepsi secara tradisional laire aksara Jawa digathukake karo Legenda Aji Saka, crita turun-temurun awujud tutur tinular (dari mulut ke mulut) bab padudon lan perang tandhinge Dora lan Sembada jalaran rebutan keris pusakane Aji Saka sing kudune tansah padha direksa bebarengan ing pulo Majeti. Wusana Dora lan Sembada mati sampyuh ngeres-eresi. Nalika arep angejawa, Aji Saka kang didherekake para abdine sing jenenge Dora, Sembada, Duga, lan Prayoga lerem ing pulo Majeti sawatara suwene. Sadurunge nerusake laku angejawa, Aji Saka ninggal pusaka awujud keris. Dora lan Sembada kapatah ngreksa kanthi piweling wanti-wanti, aja pisan-pisan diwenehake wong saliyane Aji Saka dhewe sing teka ing pulo Majeti njupuk pusaka kasebut. Aji Saka banjur nerusake laku dikanthi Duga lan Prayoga. Dene Dora lan Sembada tetep ana pulo Majeti ngreksa pusaka. Sawise sawatara lawase, Dora lan Sembada krungu kabar manawa Aji Saka wis dadi ratu ing Medhangkamulan. Dora ngajak Sembada ninggalake pulo Majeti ngaturake pusaka marang Aji Saka. Sarehne Sembada puguh ora gelem diajak awit nuhoni dhawuhe Aji Saka, kanthi sesidheman si Dora banjur menyang Medhangkamulan tanpa nggawa keris. Marang Aji Saka si Dora kanthi atur dora wadul warna-warna. Dora kadhawuhan bali maneh menyang pulo Majeti. Gelem ora gelem Sembada kudu diajak menyang Medhangkamulan kanthi nggawa keris pusaka. Dora banjur budhal. Jalaran panggah ora percaya marang kandhane si Dora, Sembada puguh ora gelem diajak jalaran nuhoni dhawuhe bendarane, lan precaya manawa Aji Saka bakal netepi janjine mundhut pusakane tanpa utusan. Lelorone padha padudon rebut bener, banjur pancakara perang tandhing rebutan keris. Wasana Dora lan Sembada padha mati sampyuh ketaman keris sing dienggo rebutan. Sawise sawatara suwe Dora ora sowan maneh ngajak Sembada ngaturake keris pusaka, Aji Saka banjur utusan Duga lan Prayoga nusul menyang pulo Majeti. Bareng tekan pulo Majeti saiba kagete Duga lan Prayoga meruhi Dora lan Sembada padha mati ketaman pusaka sing isih tumancep ing dhadhane. Sawise ngupakara layone Dora lan Sembada kanthi samesthine, Duga lan Prayoga banjur gegancangan marak ratu gustine ngaturake pusaka lan pawarta bab patine Dora lan Sembada. Midhanget ature Duga lan Prayoga, Aji Saka sakala ngrumangsani kalepyane dene ora netepi janji mundhut pribadi pusaka sing direksa Dora lan Sembada. Minangka pangeling-eling, Aji Saka banjur ngripta aksara Jawa legena cacah wong puluh wiwit saka HA nganti NGA. HA NA CA RA KA Ana caraka (utusan) DA TA SA WA LA Padha suwala (padudon, pancakara) PA DHA JA YA NYA Padha dene digdayane MA GA BA THA NGA Wasana padha dadi bathang Iku mau konsepsi secara tradisional bab kelairan lan penyusunane aksara Jawa anyar. Pancen abjad aksara Jawa sing 20 cacahe lan disusun dadi patang larik iku, mujudake guritan sing gampang diapalake lan dieling-eling (memoteknik), mligine tumrap sing lagi wiwit sinau maca lan nulis aksara Jawa. Abjad sing kaya guritan lan digathukake karo legenda Aji Saka mau saya narik kawigaten bareng dikantheni gambar padudon, perang tanding lan mati sampyuhe Dora lan Sembada. KONSEPSI SECARA ILMIAH Miturut Prof. Dr. Poerbatjaraka, sadurunge wong-wong India angejawa, wong Jawa durung duwe aksara. Basa pasrawungane mung nggunakake basa lesan.Kanthi anane aksara kang digawa saka India kasebut saka sethithik basa tinulis wiwit digunakake. Pancen aksara ora mung dadi piranti komunikasi sarana tulisan, nanging luwih saka iku aksara uga dadi ukuran kemajuane budaya sing ndarbeni aksara kasebut. Peradaban sing wis nggunakake basa tinulis kanyatan luwih maju tinimbang sing ora/durung duwe aksara. Miturut Casparis, sajroning sejarah peradaban etnik Jawa, tulisan sing paling tuwa ditemokake awujud prasasti kanthi nggunakake aksara Pallawa, nuduhake tandha wektu sadurunge taun 700 Masehi. Sadurunge iku etnis Jawa mung nggunakake basa lesan. Sawise ditemokake sawatara prasasti liyane, baka sethithik ditindakake studi paleografi (ilmu kanggo nyinaoni aksara kuna). Miturut studi paleografi sing ditindakake Casparis, ana limang periode aksara Jawa. Periode kapisan (aksara Pallawa) dening Bp. Atmodjo diperang maneh dadi loro. Kanthi mangkono kabeh ana nem periode, yaiku: 1. Aksara Pallawa tataran wiwitan, digunakake sadurunge taun 700 M. Contone tinemu ing prasasti Tugu ing Bogor. 2. Aksara Pallawa tataran pungkasan, digunakake ing abad VII lan tengahan abad VIII. Tinemu ing prasasti Canggal ing Kedu, Magelang.3. Aksara Jawa kuna kawitan, digunakake taun 750-925 M, contone tinemu ing prasasti Polengan ing Kalasan, Yogyakarta.4. Aksara Jawa kuna tataran pungkasan, digunakake taun 925-1250 M, tinemu ing prasasti Airlangga. 5. Aksara Majapait, digunakake ing taun 1250-1450 M. tinemu ing prasasti Singosari lan Malang, sarta ing lontar (ron tal) Kunjarakarna. 6. Aksara Jawa anyar, digunakake taun 1500 M nganti saiki. Tinemu ing Kitab Bonang lan buku-buku sabubare iku. Lair lan ngrembakane aksara Jawa raket sesambungane karo lair lan ngrembakane basa Jawa. Aksara Jawa anyar lair sawise basa Jawa anyar digunakake kanthi resmi ing sajroning pamarentahan, saora-orane wiwit taun 1500 M. Wektu kasebut punjere pamarentahan ing Jawa ana ing Demak. Mula ana sing duwe panemu manawa aksara Jawa anyar wiwit digunakake kanthi resmi nalika jaman Demak. Panemu iki disengkuyung antara liya karo bukti awujud naskah kanthi tulisan aksara Jawa anyar yaiku Kitab Bonang.Bab taun kelairane aksara Jawa iki padha karo andharane Bp. Moch.Choesni ing majalah JAMBATAN edisi khusus babaran Lembaga Javanologi Surabaya kang didumake marang para peserta Kongres Basa Jawa II ing Batu, Malang sasi Oktober taun 1996. Nanging beda versine. Bapak Moch. Choesni nggathukake kelairane aksara Jawa anyar karo tekane muhibah utawa kunjungan persahabatan saka Tiongkok menyang tanah Jawa (Majapait) kang dipandhegani Laksamana/Jendral Cheng Ho (Jeng Ho) kanthi ngirid wadyabala pirang-pirang ewu cacahe sikep gegaman. Ing rubrik Opini koran Jawa Pos Senen, 15 Agustus 2005, kanthi irah-irahan Cheng Ho dan Nebula China, Dr. Asvi Warman Adam (ahli peneliti LIPI Jakarta) nyebutake ekspedisi kapisan numpak prau cacah 300 kanthi penumpang 27.000. Ma Huan, penerjemah sing wis ngrasuk agama Islam, uga melu dadi penumpang. Bp. Moch. Choesni nyangga-runggekake (meragukan) apa bener tekane caraka kanthi sandiyuda Sam Poo Kong sing diwerdeni tiga perkasa pembalas dendam samono akehe iku ‘kunjungan persahabatan’ kang tulus? Apa ora ana gandheng-cenenge karo pangrabasane wadya bala Tiongkok kang sumedya nguwasani Singasari sing digagalake dening Raden Wijaya lan Arya Wiraraja dhek taun 1293? Ma-ga-ba-tha-nga alias “mangga batangen”, mangkono pepuntoning andharan sawise ngonceki kanthi njlimet surasane ha-na-ca-ra-ka (ana utusan), da-ta-sa-wa-la (tanpa peperangan), lan pa-dha-ja-ya-nya (padha jayane, kasembadan sedyane). Ing ngarep wis diaturake, secara tradisional urutan abjad ha-na-ca-ra-ka digathuk-gathukake karo legenda Aji Saka. Nanging data literer nuduhake menawa naskah utawa teks sing ngemot urutan utawa abjad ha-na-ca-ra-ka ora mesthi digathukake karo legenda kasebut. Upamane Serat Sastra Gendhing, Serat Centhini, Serat Sastra Harjendra, Serat Saloka Jiwa, lan Serat Retna Jiwa. Kabeh serat (buku/tulisan) kasebut isi abjad ha-na-ca-ra-ka kagandhengake karo filsafat utawa ngelmu kasampurnan. Ing buku HA NA CA RA KA (Bp. Slamet Riyadi), ing perangan kang ngrembug bab makna filosofis ha-na-ca-ra-ka, dibabar ora kurang saka 20 warna filsafat ha-na-ca-ra-ka miturut daya nalar, wawasan, lan tujuane sing gawe makna filosofis dhewe-dhewe. Ing majalah Jambatan kasebut ing ngarep ana nem jinis makna filosofis. Durung kalebu sing ana makalah-makalah liyane. Beda karo kang kasebut ing Serat Manikmaya, Serat Aji Saka, lan Serat Momana sing padhadene nggathukake karo legenda Aji Saka. Ing buku-buku kasebut abjad ha-na-ca-ra-ka diarani sastra sarimbagan. Jalaran larikan kapisan abjad Jawa anyar iku unine ha-na-ca-ra-ka, mula luwih dikenal kanthi jeneng carakan kaya ing Sundha lan Bali. Miturut panalitine Prof. Dr. Poerbatjaraka, Serat Manikmaya dikarang dening Kartamursadah ing jaman Kartasura, ing taun 1740 Jawa utawa taun 1813 Masehi. Dene abjad Jawa sing luwih tuwa diarani ka-ga-nga, awit manut wewaton abjad Devanagari ka-kha-ga-gha-nga. Serat Manikmaya ditedhak (disalin) dening Panambangan, punggawa Mangkunagaran, lan ing taun 1981 dibabar dening Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kanthi irah-irahan Manikmaya. Apa ana naskah liyane isi legenda Aji Saka sing luwih tuwa tinimbang Serat Manikmaya, durung kaweruhan, awit miturut Wiryamartana naskah-naskah saliyane Serat Manikmaya sing ana abjad hanacaraka-ne keh-kehane ditulis ing wiwitane abad XIX. Yen ta Serat Manikmaya mujudake naskah sing paling tuwa, bisa dipesthekake manawa anane abjad ha-na-ca-ra-ka wiwit jaman Kartasura. Miturut Uhlenbeck, abjad ha-na-ca-ra-ka digunakake sawise adoh lete karo wektu sedane Sultan Agung (1645 M) utawa antarane jaman Amangkurat I lan Amangkurat II. Bisa uga ing jaman Sultan Agung wis ana gagasan bab abjad kasebut. Bab iki adhedhasar data literer anane restrukturisasi (pemugaran) kabudayan Jawa ing jaman Sultan Agung.Upamane, salah siji sing tumekane saiki bisa kita rasakake, yaiku anane pananggalan Jawa.Pananggalan kasebut mujudake gabungan antarane kalender taun Saka karo kalender taun Hijriah.Kajaba saka iku, ing naskah-naskah sadurunge jaman Sultan Agung ora ana abdjad ha-na-ca-ra-ka. Ora bisa kita selaki aksara Jawa kanthi abjad ha-na-ca-ra-ka sing umure wis atusan taun kasebut wis akeh lelabuhane. Cundhuk karo saya majune panalaran lan wawasane sing duwe kabudayan, aksara Jawa minangka perangane kabudayan Jawa, minangka fungsi literer uga tau ngalami owah gingsir mligine ing bab wewaton panulise basa Jawa nganggo aksara Jawa. Sadurunge Kongres Basa Jawa I ing Semarang sasi Juli 1991, wis ana ada-ada ngruwat abjad ha-na-ca-ra-ka. Patine Dora lan Sembada kanthi memelas amarga dadi korban pemimpin sing mencla-mencle ora netepi janji, dianggep ora cocok karo alam Indonesia Membangun sing mbudidaya ngundhakake pembangunan lair lan batin. Sawatara pemakalah ing Kongres Basa Jawa III ing Yogyakarta Juli 2001, malah gawe ada-ada owah-owahan bab tata panulise basa Jawa nganggo aksara Jawa. Kepriye babaring lelakon aksara Jawa sateruse, iki pancen dadi PR-e sapa bae kang pancen isih padha ngrumangsani melu handarbeni, hangopeni, lan hangrungkebi budaya Jawa. Ature: M. Soemarsono JB 40/LX, 4-10 Juni 2006
SEJARAH AKSARA JAWA
23Selasa Okt 2012
Posted by aurapusaka in Uncategorized
≈ Meninggalkan komentar
Sejarah Aksara Jawa
Sejarah Aksara Jawa Legenda Hanacaraka Aksara Jawa Hanacaraka itu berasal dari aksara Brahmi yang asalnya dari Hindhustan. Di negeri Hindhustan tersebut terdapat bermacam-macam aksara, salah satunya yaitu aksara Pallawa yang berasal dari Indhia bagian selatan. Dinamakan aksara Pallawa karena berasal dari salah satu kerajaan yang ada di sana yaitu Kerajaan Pallawa. Aksara Pallawa itu digunakan sekitar pada abad ke-4 Masehi.
Di Nusantara terdapat bukti sejarah berupa prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur, ditulis dengan menggunakan aksara Pallawa. Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, antara lain: aksara hanacaraka , aksara Rencong (aksara Kaganga), Surat Batak, Aksara Makassar dan Aksara Baybayin (aksara di Filipina). Profesor J.G. de Casparis dari Belanda, yaitu pakar paleografi atau ahli ilmu sejarah aksara, mengutarakan bahwa aksara hanacaraka itu dibagi menjadi lima masa utama, yaitu:
a. Aksara Pallawa Aksara Pallawa itu berasal dari India Selatan. Jenis aksara ini mulai digunakan sekitar abad ke 4 dan abad ke 5 masehi. Salah satu bukti penggunaan jenis aksara ini di Nusantara adalah ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Aksara ini juga digunakan di Pulau Jawa, yaitu di Tatar Sundha di Prasasti tarumanegara yang ditulis sekitar pada tahun 450 M. di tanah Jawa sendiri, aksara ini digunakan pada Prasasti Tuk Mas dan Prasasti Canggal. Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, termasuk aksara hanacaraka. Kalau diperhatikan, aksara Pallawa ini bentuknya segi empat. Dalam bahasa Inggris, perkara ini disebut sebagai huruf box head atau square head-mark. Walaupun aksara Pallawa ini sudah digunakan sejak abad ke-4, namun bahasa Nusantara asli belum ada yang ditulis dalam aksara ini.
Gambar 2.1 Prasasti Yupa b. Aksara Kawi Wiwitan Perbedaan antara aksara Kawi Wiwitan dengan aksara Pallawa itu terutama terdapat pada gayanya. Aksara Pallawa itu dikenal sebagai salah satu aksara monumental, yaitu aksara yang digunakan untuk menulis pada batu prasasti.
b. Aksara Kawi Wiwitan utamanya digunakan untuk nulis pada rontal, oleh karena itu bentuknya menjadi lebih kursif. Aksara ini digunakan antara tahun 750 M sampai 925 M. Prasasti-prasasti yang ditulis dengan menggunakan aksara ini jumlahnya sangatlah banyak, kurang lebih 1/3 dari semua prasasti yang ditemukan di Pulau jawa. Misalnya pada Prasasti Plumpang (di daerah Salatiga) yang kurang lebih ditulis pada tahun 750 M. Prasasti ini masih ditulis dengan bahasa Sansekerta.
c. Aksara Kawi Pungkasan Kira-kira setelah tahun 925, pusat kekuasaan di pulau Jawa berada di daerah jawa timur. Pengalihan kekuasaan ini juga berpengaruh pada jenis aksara yang digunakan. Masa penggunaan aksara Kawi Pungkasan ini kira-kira mulai tahun 925 M sampai 1250 M. Sebenarnya aksara Kawi Pungkasan ini tidak terlalu banyak perbedaannya dengan aksara Kawi Wiwitan, namun gayanya saja yang menjadi agak beda. Di sisi lain, gaya aksara yang digunakan di Jawa Timur sebelum tahun 925 M juga sudah berbeda dengan gaya aksara yang digunakan di Jawa tengah. Jadi perbedaan ini tidak hanya perbedaan dalam waktu saja, namun juga pada perbedaan tempatnya. Pada masa itu bisa dibedakan empat gaya aksara yang berbeda-beda, yaitu;
1) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada tahun 910-950 M;
2) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada jaman Prabu Airlangga pada tahun 1019-1042 M;
3) Aksara Kawi Jawa Wetanan Kedhiri kurang lebih pada tahun 1100-1200 M;
4) Aksara Tegak (quadrate script) masih berada di masa kerajaan Kedhiri pada tahun 1050-1220 M
d. Aksara Majapahit Dalam sejarah Nusantara pada masa antara tahun 1250-1450 M, ditandai dengan dominasi Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Aksara Majapahit ini juga menunjukkan adanya pengaruh dari gaya penulisan di rontal dan bentuknya sudah lebih indah dengan gaya semi kaligrafis. Contoh utama gaya penulisan ini adalah terdapat pada Prasasti Singhasari yang diperkirakan pada tahun 1351 M. gaya penulisan aksara gaya Majapahit ini sudah mendekati gaya modern. Gambar 2.2 Prasasti Singhasari
e. Aksara Pasca Majapahit Setelah naman Majapahit yang menurut sejarah kira-kira mulai tahun 1479 sampai akhir abad 16 atau awal abad 17 M, merupakan masa kelam sejarah aksara Jawa. Karena setelah itu sampai awal abad ke-17 M, hampir tidak ditemukan bukti penulisan penggunaan aksara jawa, tiba-tiba bentuk aksara Jawa menjadi bentuk yang modern. Walaupun demikian, juga ditemukan prasasti yang dianggap menjadi “missing link” antara aksara Hanacaraka dari jaman Jawa kuna dan aksara Budha yang sampai sekarang masih digunakan di tanah Jawa, terutama di sekitar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sampai abad ke-18. Prasasti ini dinamakan dengan Prasasti Ngadoman yang ditemukan di daerah Salatiga. Namun, contoh aksara Budha yang paling tua digunakan berasal dari Jawa barat dan ditemukan dalam naskah-naskah yang menceritakan Kakawin Arjunawiwaha dan Kunjarakarna. Gambar 2.3 Prasasti Ngadoman
f. Munculnya Aksara Hanacaraka Baru Setelah jaman Majapahit, muncul jaman Islam dan juga Jaman Kolonialisme Barat di tanah Jawa. Dijaman ini muncul naskah-naskah manuskrip yang pertama yang sudah menggunakan aksara Hanacaraka baru. Naskah-naskah ini tidak hanya ditulis di daun palem (rontal atau nipah) lagi, namun juga di kerta dan berwujud buku atau codex (“kondheks”). Naskah-naskah ini ditemukan di daerah pesisir utara Jawa dan dibawa ke Eropa pada abad ke 16 atau 17. Gambar 2.4 Naskah Aksara Jawa Bentuk dari aksara Hanacaraka baru ini sudah berbeda dengan aksara sebelumnya seperti aksara Majapahit. Perbedaan utama itu dinamakan serif tambahan di aksara Hanacaraka batu. Aksara-aksara Hanacaraka awal ini bentuknya mirip semua mulai dari Banten sebelah barat sampai Bali. Namun, akhirnya beberapa daerah tidak menggunakan aksara hanacaraka dan pindhah menggunakan pegon dan aksara hanacaraka gaya Durakarta yang menjadi baku. Namun dari semua aksara itu, aksara Bali yang bentuknya tetap sama sampai abad ke-20. Aksara Pallawa ini digunakan di Nusantara dari abad ke-4 sampai kurang lebih abad ke-8. Lalu aksara Kawi Wiwitan digunakan dari abad ke-8 samapai abad ke-10, terutama di Jawa Tengah
TATA CARA UPACARA SIRAMAN
Tata cara upacara siraman tingkeban[sunting]
1. Siraman dipunlaksanaken déning para sesepuh (priyantun ingkang dipunsepuhaken) ingkang cacahipun pitu, kalebet rama kaliyan ibu saking ibu ingkang nembé ngandhut. Saénipun ingkang nyirami inggih punika tiyang sepuh ingkang sampun gadhah wayah.
2. Sasampunipun upacara siraman, dipunlajengaken upacara nglebetaken tigan ayam kampung wonten ing kain (sarung) calon sang ibu déning sang garwa saking padharanipun ngantos pecah. Punika minangka simbol saha nyuwun supados bayi ingkang badhé dipunlairaken saged lair kanthi gampil tanpa alangan satunggal punapa. Padatanipun, bilih priyantun èstri ingkang nembé ngandhut sapisanan nglairaken kathah godhanipun. Awit saking punika, prelu ndedonga kaslametan, utaminipun ing wekdal pitung sasi.
3. Salajengipun inggih punika gantos busana kaping pitu dipunrangkepi kain pethak. Kain pethak kala wau dados dhasaring busana ingkang kaping pisan minangka pralambang bilih bayi ingkang badhe dipunlairaken inggih suci saha badhe pikantuk rahamat saking Gusti Allah SWT.
4. Sasampunipun ingkang calon ibu ngagem kain pethak kaping pitu gantos-gantosan, lajeng dipunadani adicara medhot lawè ingkang dipunubengaken ing padharanipun calon ibu. Dènè ingkang medhot benang lawè punika inggih calon bapa nipun kanthi ancas supados bayi ing kandhutan samangkè saged lair kanthi gampil.
5. Menawi lawè sampun dipunpedhot, mila calon simbah putri saking pihak calon ibu, nggèndhong klapa gadhing dipunkancani dèning ibu bèsan. Ananging sadéréngipun, klapa gadhing kala wau dipunlebataken wonten ing kain ingkang dipunagem calon ibu saking nginggil liwat padharan dumugi ngandhap, lajeng dipuntampani dèning calon simbah putri nipun. Ancas saking upacara punika inggih supados samangkè bayi ingkang dipunkandhut saged lair kanthi gampil tanpa rubèda satunggal punapa.
6. Rerangkéning adicara ingkang salajengipun inggih calon bapa mecah klapa gadhing kasebat kanthi sadéréngipun milih setunggal saking kalih klapa ingkang sampun dipugambari Kamajaya saha Dewi Ratih utawi Arjuna kaliyan Wara Sumbadra utawi Srikandhi. Klapa kalih kala wau dipunwalik supados ingkang bapa boten saged ningali gambaripun kala wau. Menawi klapa ingkang dipungepuk kaliyan ingkang bapa ingkang gambaripun Kamajaya mila bayi nipun badhe lair kakung, saha kosok walikipun bilih ingkang dipungepuk gambar Dewi Ratih, mila bayinipun éstri. (Punika namung ingkang dipunkaremaken kemawon, déréng mesti dados kasunyatan). Ananging, bilih kita nyuwun kanthi saéstu dhumateng Gusti Ingkang Maha Kuwaos, mila punapa ingkang dipungayuhaken saged kabul.
7. Sabibaripun upacara siraman punika kalajengaken upacara milih sekul jènè ingkang mapan wonten ing takiripun ingkang garwa. Lajeng dipunlajengaken upacara dodol dhawet saha rujak. Anggénipun bayar dodolan nganggè logam ingkang kadamel saking remukan gendhéng (kréwéng) ingkang dipunbentuk bunder, arupi yatra logam punika. Asilipun dodolan dipunkempalaken lajeng dipunlebetaken kwali ingkang dipundamel saking lempung. Kwali ingkang sampun dipunisi kaliyan kréwéng kala wau lajeng dipungepuk wonten ing ngajeng lawang. Upacara punika minangka simbol supados bayi ingkang dipunlairaken samangkè pikantuk kathah rejeki, saged kangge nyekapi gesangipun kulawarganipun saéngga saged ngamal ingkang kathah.
Ubarampè Upacara Tingkeban[sunting]
Ubarampè ingkang dipunginakaken ing upacara tingkeban inggih awujud manèka werna dhedharan. Dènè ancasipun wonten dhedharan punika minangka tandha sukur dhumateng Gusti Ingkang Maha Kuawaos awit sedaya sih nugrahanipun.
1. Tumpeng Kuat. Tumpeng kuat minangka simbol supados bayi ingkang badhè dipunlairaken samangkè sehat saha kuwat. Bahan ingkang dipunginakaken inggih punika wos. Tumpeng ugi dipunhias ngginakaken tigan ayam godhog 35 iji, tahu, tèmpè, iwak asin goreng, lombok mentah ingkang dipundamel hiasan saha tèrong mentah ingkang dipunoncéki ananging kulitipun tetep taksih nèmplèk, saha dipunsukani urab-uraban.
2. Jajan Pasar. Jajan pasar punika boten kedah dipundamel piyambak ananging tumbas kèmawon wonten ing pasar. Jajan pasar ingkang dipuntumbas antawisipun kuè apem, kuè cucur, kuè bolu, kuè lapis, saha woh-wohan kados ta, nangka, jeruk, bengkowang, timun, pisang, kacang godhog, lan sapanunggalanipun. Sedaya jajan pasar kala wau dipuntata kanthi rapi nembè dipunsajikaken.
3. Keleman. Keleman inggih punika kados ubi-ubi nan. Keleman ingkang dipunbetahaken dados ubarampè upacara tingkeban arupi pitung jinis, kados ta: ubi jalar, tèla, gembili, kenthang, wortel, ganyong, saha erut. Manèka warna keleman dipunsajikaken wonten ing setunggal wadah kados ta nyiru.
4. Rujakan. Rujakan punika kadamel saking manèka warna woh-wohan kados ta: jeruk, timun, blimbing, pisang watu, lan sapanunggalanipun. Sedaya bahan rujak dipuncampur dados setunggal saha dipunsajikaken kanthi saè ngantos raosipun rujak èco. Ancasipun inggih supados bayi ingkang badhè dipunlairaken samangkè saged ngremenaken kulawarganipun.
5. Dawet. Kangge nggampilaken anggenipun damel, dawetipun saged dipuntumbas wonten ing pasar saha ing griya namung kantun mangsak dawetipun kanthi dipuncampur santen supados raosipun èco. Menawi kepéngin seger saged dipuntambahi ugi és batu.
6. Sajén Medikingan. Sajén punika dipundamel kanggè lairanipun putra ing sangandhaping putra bajeng piyambak. Dènè ubarampènipun inggih kados mekaten.
• sekul jenè ingkang bentukipun kerucut.
• sekul loyang, inggih punika sekul jenè ingkang dipunkum wonten ing toya, lajeng dipundang malih saha dipunsukani klapa parut.
• entén-entén, inggih punika campuran klapa parut kaliyan gendhis klapa ingkang dipunmangsak ngantos garing.
• bubur procot, dipundamel saking glepung wos, santen sacekapipun, gendhis klapa, ingkang dipunmangsak kanthi wetah, lajeng dipunlebetaken periuk ingkang salajengipun dipunmangsak sesarengan.
Wonten ing upacara tingkeban kedah wonten ugi pitung jinis bubur, kalebet bubur procot punika.
Wekdal Upacara Tingkeban[sunting]
Upacara tingkeban limrahipun dipunadani ing dinten ingkang pinilih, inggih dinten rebo utawi setu ing tanggal 14 saha 15 miterat tanggal sasi Jawa. Priyantun Jawi pitados bilih menawi upacara tingkeban dipunadani ing tanggal punika, bayi ingkang badhè dipunlairaken gadhah cahya ingkang sumunar saéngga saged dados larè ingkang pinter. Wekdal kangge ngadani upacara tingkeban ingkang sae ing wanci 09.00 - 11.00. Calon ibu kedah siram saha kramas ingkang resik rumiyin. Punika minangka simbol wontenipun kekareman ingkang suci saha resik saking pribadinipun calon ibu. Upacara tingkeban saged dipunwiwiti ing pukul 15.00 - 16.00, amargi priyantun Jawa pitados bilih ing wekdal punika bidadari saweg mandhap ing bumi kagem siram.
Pirantos Upacara Tingkeban[sunting]
Sapèranganing pirantos ingkang kedah dipunsamektakaken kanggè upacara tingkeban ing antawisipun 1 mèja ingkang dipuntutup kain pethak ingkang resik. Sanginggilipun dipuntutup malih kaliyan bangun tulak, kain sindur, kain lurik, yuyu sekandhang, mayang sekar utawi lentrek, ron dhadhap serep, ron kluwih, saha ron alang-alang. Sedaya bahan kala wau kanggè lambaran menawi saweg nyirami.[3]
Pirantos sanésipun ingkang dipunbetahaken inggih punika:
1. Bokor. Bokor dipunisi toya sekar setaman kanggè upacara siraman.
2. Bathok. Dipunginakaken kanggè cidhuk ing upacara siraman.
3. Boreh, dipunginakaken kanggè gantosipun sabun ing upacara siraman.
4. Kendhi, dipunginakaken kanggè nyirami ingkang kaping pungkasan.
5. Lap andhuk.
6. Kalih setengah méter kain pethak.
7. Tigan ayam kampung setunggal dipunwungkus plastik, cengkir klapa gadhing.
Busana Upacara Tingkeban[sunting]
Busana ingkang dipunagem calon ibu inggih punika, kalih méter lawè, rasukan dalam, kebaya 7 potong, kain batik 7 lembar salah satunggalipun motif truntum, saha stagéén. Dènè busana ingkang dipunagem calon bapa inggih punika kain batik motif truntum, beskap, saha udeng (blangkon). Kanggè calon ibu boten pareng nganggè perhiasan.
Sesajén Tingkeban[sunting]
1. Tumpeng robyong mawi kuluban, tigan ayam godhog, iwak asin dipungoréng.
2. Ayam bekakah 1 pasang (ayam ingkung)
3. Bubur pethak 1 piring
4. Bubur sengkala 1 piring
5. Bubur abrit 1 piring
6. Pényon utawi plérét 1 piring
7. Ketupat lepet (namung kanggè sarat kemawon)
8. Manèka warna woh-wohan
9. Jajan pasar saha pala kependhem
10. Arang-arang kembang 1 gelas
11. Dhawet ayu
KETHOPRAK
Wonten ing tanah Jawi kathah kita panggihi asli kabudayan ingkang maneka warni. Paramila saged kawastanan bilih tiyang Jawi punika sugih kabudayan, inggih saking basa, kasenian, teknologi, lan sapanungalanipun. Asil-asil kabudayan kala wau taksih kasimpen ing tanah Jawi lan wewengkon sanesipun sae awujud seratan, barang-barang, wewangunan, punapa dene ingkang boten saged kita tingali nanging saged kita raosaken ingggih punika morma-norma utawi nilai-nilai ingkang dipunwarisaken deninmg pada leluhur. Saking asil-asil kabudayan kala wau saged kita mangertosi kados pundi gesangipun tiyang Jawi ugi watakipun.
Langganan:
Postingan (Atom)